Profil Kelurahan Beji

Informasi Kelurahan Beji

Informasi Kelurahan Beji

Kelurahan Beji memiliki sejarah nama yang unik. Nama “Beji” yang berarti “Tengah” menurut salah seorang tetua masyarakat, berasal dari legenda lokal mengenai blumbang (sumur) yang dulunya ada di daerah tersebut. Blumbang ini pindah ke Desa Taman setelah kekalahan Mbah Menu dalam adu kesaktian melawan Mbah Taman. Kini, blumbang tersebut masih dikenal sebagai “Blumbang Beji” dan dianggap memiliki kekuatan magis.

Sejak tahun 2001, Beji berstatus sebagai kelurahan dengan struktur pemerintahan yang dipimpin oleh lurah yang ditunjuk oleh bupati, bukan dipilih langsung. Lurah dibantu oleh berbagai staf, termasuk sekretaris kelurahan, dan bagian-bagian lain yang mengurus pembangunan, ketertiban, dan kesejahteraan masyarakat. Struktur pemerintahan ini menggantikan sistem kepala desa yang dulu dipilih secara langsung.

Kelurahan Beji memiliki populasi sekitar 12.355 jiwa, terdiri dari 6.168 laki-laki dan 6.187 perempuan, tersebar di 7 lingkungan dan 50 RT. Sebagian besar penduduk bekerja di sektor perdagangan (44,51%), diikuti sektor pertanian (26,91%), dan jasa (20,29%). Pendidikan di Beji sebagian besar setingkat sekolah dasar, dan mayoritas penduduknya beragama Islam (99,8%). Sarana peribadatan meliputi enam masjid dan 33 langgar.

Ekonomi Beji didominasi oleh industri tenun sarung byur yang berkembang pesat, sementara potensi investasi juga tinggi berkat lokasi strategis di Jalur Pantura. Pendidikan agama tersedia di berbagai lembaga seperti TK Muslimat dan Pondok Pesantren.

Budaya Beji mencerminkan kebudayaan Jawa dengan dialek khas Banyumasan. Masyarakat Beji menganut sistem keturunan bilateral dan sistem perkawinan bebas, dengan tempat tinggal matrilokal. Kesenian tradisional seperti terbang kencer masih dipertahankan, meski kesenian populer modern mulai menggeser tradisi lama. Di masa lalu, Beji terkenal dengan pabrik Texmaco Jaya yang kini bangkrut, dan masyarakat lokal sering berpindah kerja ke daerah lain. Meskipun suasana Beji berubah, warung lokal masih mempertahankan menu tradisional seperti grombyang, makanan khas Pemalang.

Kesenian utama di Beji, yaitu terbang kencer yang mana merupakan alat musik tradisional yang dikenal di Kelurahan Beji dan Mlaki (Wanarejan). Terbuat dari kayu dengan kulit di bagian atas dan dilengkapi logam yang menghasilkan suara gemerincing, terbang ini mirip dengan bedug dan gendang namun berukuran sedang. Terdapat dua versi mengenai asal-usul terbang kencer: versi pertama menyebutkan bahwa alat ini berasal dari Jombang, Jawa Timur, dibawa oleh Gari yang belajar kesenian terbang di pesantren dan kemudian mengajarkannya di desanya. Versi kedua mengatakan terbang kencer berasal dari desa tetangga, Wanarejan, berdasarkan pengakuan guru terbang Kambali yang belajar dari Kurdi di desa tersebut. Meskipun ada perbedaan, terbang kencer di Beji banyak dipengaruhi oleh ajaran Kurdi.